pesisirmandar.com, Majene — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Majene masih terjadi hingga Minggu, 27 September 2026. Kondisi tersebut menyebabkan harga Pertalite di tingkat pengecer melonjak hingga mencapai Rp25.000 per botol berisi sekitar 1,5 liter.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Majene bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan instansi terkait telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada 15 September 2026. Namun, hingga kini masyarakat masih mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM subsidi tersebut.
Kelangkaan BBM juga berdampak pada panjangnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Majene. Berdasarkan pantauan warga, antrean kendaraan kerap terjadi sejak pukul 03.00 dini hari hingga sekitar pukul 10.00 pagi.
IM, warga Lingkungan Lembang, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae, mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite. Selain langka, menurutnya harga BBM eceran juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
“Antri di Pertamina harus mulai subuh, itu juga syukur kalau kita masih dapat. Beli botolan harganya sudah mahal, bahkan tembus Rp25.000 per botol eceran,” keluh IM kepada pesisirmandar.com.
Keluhan serupa disampaikan SR, mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Ia menilai harga Pertalite eceran saat ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“BBM subsidi jenis Pertalite yang biasa kami beli hanya Rp18.000 per botol, sekarang sudah tembus Rp25.000 per botol di eceran. Kalau kita ke SPBU, lama sekali antreannya,” ujarnya.
Selain menyoroti kelangkaan dan tingginya harga BBM, SR juga menilai diperlukan langkah yang lebih konkret dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut.
Mahasiswa Unsulbar itu berharap Pemerintah Kabupaten Majene bersama aparat penegak hukum dapat membahas persoalan kelangkaan BBM secara serius karena dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
“Sebaiknya Bupati Majene dan Kapolres Majene membahas serius kondisi seperti ini karena sangat merugikan masyarakat Majene, termasuk mahasiswa,” katanya.
Terkait dugaan adanya praktik penyalahgunaan distribusi BBM di sejumlah SPBU, pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber. Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun pihak SPBU mengenai dugaan tersebut.
SR juga berharap pemerintah daerah, pihak SPBU, dan aparat penegak hukum dapat segera menemukan solusi untuk mengatasi persoalan kelangkaan BBM yang masih berlangsung.
“Kami hanya bisa menyarankan kepada pemerintah daerah, pihak SPBU, dan aparat penegak hukum di Majene agar bersama-sama menyelesaikan masalah BBM subsidi jenis Pertalite ini sebelum menimbulkan gejolak yang lebih besar di masyarakat,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pesisirmandar.com masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Pemerintah Kabupaten Majene, pihak SPBU, dan Pertamina terkait penyebab kelangkaan BBM serta langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menormalkan distribusi Pertalite di Kabupaten Majene.
