pesisirmandar.com, Majene — Aksi demonstrasi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene di depan Kantor Bupati Majene, Rabu (18/2/2026), berujung ricuh. Seorang mahasiswa mengaku menjadi korban dugaan pemukulan oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Majene saat massa berupaya menemui Wakil Bupati Majene.
Aksi tersebut merupakan bentuk protes mahasiswa atas belum dibukanya akses jalan menuju kampus yang disebut tertutup akibat persoalan lahan. Mahasiswa menilai kondisi itu menghambat aktivitas akademik dan mendesak Pemerintah Kabupaten Majene segera mengambil langkah penyelesaian.
Kericuhan bermula ketika massa aksi mencoba memasuki kantor bupati untuk bertemu langsung dengan Wakil Bupati. Namun, upaya tersebut dihadang aparat Satpol PP yang berjaga di pintu masuk, sehingga memicu aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas.
Dalam situasi itu, seorang mahasiswa yang berada di barisan depan mengaku mengalami kekerasan fisik. Massa aksi menilai tindakan aparat telah melampaui batas kewenangan pengamanan.
“Kami datang untuk menyampaikan aspirasi dan menemui wakil bupati yang katanya bersedia menerima massa aksi, tapi justru mendapat tindakan represif. Kami meminta oknum Satpol PP yang melakukan pemukulan segera dipecat,” kata Syaiful Islam, Mahasiswa STAIN Majene yang diduga kena pukulan.
Mahasiswa juga mendesak pemerintah daerah mengusut insiden tersebut secara transparan dan memberikan sanksi tegas apabila ditemukan pelanggaran. Selain itu, mereka kembali menegaskan tuntutan utama, yakni pembukaan akses jalan menuju kampus yang dinilai vital bagi kelancaran kegiatan perkuliahan.
“Kami hanya menuntut hak kami sebagai mahasiswa. Tetapi kenapa sampai aspirasi dibalas dengan kekerasan,” ujar seorang peserta aksi lainnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Majene, Andi Tamma B, mengatakan persoalan tersebut akan diupayakan selesai secara damai. Ia juga menyebut insiden terjadi di tengah situasi yang memanas antara kedua belah pihak.
“Ini akan kami selesaikan secara baik-baik. Tidak perlu dibesar-besarkan. Kami juga akan membicarakan hal ini secara internal untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya.
Menurut Andi Tamma, tidak hanya mahasiswa yang mengalami insiden, tetapi juga ada anggota Satpol PP yang mengalami luka cakaran. Meski demikian, pihaknya memastikan penyelesaian akan ditempuh melalui pendekatan kekeluargaan.
Hingga berita ini diturunkan, mahasiswa masih mendesak pemerintah daerah segera membuka akses jalan kampus serta meminta adanya kejelasan terkait dugaan tindakan represif dalam pengamanan aksi tersebut.
