Pengabdian Hilirisasi Unsulbar di Desa Alu, Dorong Petani Aren Masuk Era Digital

pesisirmandar.com, Polewali Mandar — Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar kegiatan pengabdian hilirisasi di Desa Alu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar, pada 6 Desember 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Petani Aren dalam Pembuatan Gula Merah Menjadi Komoditas Usaha di Era Digital.”

Kegiatan tersebut menyasar Kelompok Tani Hutan (KTH) Malilu Sipakainga sebagai mitra utama.

Tim pengabdian yang terdiri dari Muhammad Arafat Abdullah, S.Si., M.Si., Muhammad Sarif, S.Hut., M.Hut., Dr. Muhammad Hamzih, S.Ag., M.M., serta Arnita Irianti, S.Si., M.Si., memberikan pendampingan langsung kepada petani aren.

Baca Juga  Anggaran SPPD DPRD Polman Tembus Rp13 Miliar, HMI: Pemborosan di Tengah Defisit

Tidak sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menitikberatkan pada hilirisasi produk gula aren—mulai dari proses produksi, peningkatan kualitas gula merah, hingga pengemasan dan strategi pemasaran berbasis digital. Para peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi sederhana untuk memperluas jangkauan pasar.

Muhammad Arafat menjelaskan, selama ini petani hanya berfokus pada produksi tanpa memperhatikan nilai tambah produk.

Baca Juga  ‎PALPASI Soroti Pembangunan Koperasi Merah Putih di Polman, Diduga Tidak Transparan dan Berpotensi Kongkalikong

“Melalui pendekatan hilirisasi, gula aren tidak lagi dijual mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi dan siap bersaing di pasar digital,” ujarnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Dalam sesi diskusi, para petani menyampaikan berbagai kendala, mulai dari keterbatasan alat produksi hingga minimnya akses pasar. Tim pengabdian kemudian memberikan solusi praktis, termasuk cara memasarkan produk melalui media sosial dan platform digital.

Baca Juga  Kesatuan Pemuda untuk Rakyat Gelar Aksi Demonstrasi: Tuntut Transparansi dan Selamatkan Pasar Tradisional Campalagian

Pemilik KTH Malilu Sipakainga mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai, kehadiran akademisi membuka wawasan baru bagi petani, khususnya dalam mengembangkan usaha gula aren agar lebih modern dan berkelanjutan.

Program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi transformasi ekonomi desa, di mana komoditas lokal seperti gula aren tidak hanya bertahan sebagai produk tradisional, tetapi mampu naik kelas sebagai usaha yang adaptif di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *