‎Dinas Kesehatan Majene Gelar Bimbingan Penerapan SOP di Dapur SPPG, Perkuat Mitigasi dan Pencegahan Keracunan Pangan

pesisirmandar.com,Majene– Dalam upaya meningkatkan keamanan pangan dan mencegah terjadinya kasus keracunan makanan, Dinas Kesehatan Kabupaten Majene melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Lingkungan (P2PL) kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Tahap III bagi petugas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rabu (6/5/2026).

‎Kegiatan yang dipandu oleh tenaga sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Majene ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan pemahaman, pengetahuan, serta keterampilan petugas dapur dalam mengelola makanan yang aman, higienis, dan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

‎Pelatihan tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan di lingkungan dapur SPPG. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk mitigasi untuk mencegah risiko keracunan pangan yang dapat berdampak pada kesehatan para penerima manfaat program pelayanan gizi.

‎Dalam sesi pembelajaran, peserta diberikan berbagai materi penting yang berkaitan dengan tata kelola makanan yang baik dan benar. Materi yang disampaikan meliputi kebersihan personal petugas, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), prosedur penerimaan bahan makanan, tata cara penyimpanan bahan pangan, proses pengolahan makanan yang aman, hingga tahapan penyajian dan distribusi makanan kepada penerima manfaat.

‎Tenaga sanitarian menjelaskan bahwa setiap tahapan dalam proses pengolahan makanan memiliki risiko tersendiri apabila tidak dilakukan sesuai prosedur. Oleh karena itu, penerapan SOP menjadi hal yang sangat penting untuk menjamin kualitas dan keamanan makanan yang dihasilkan.

‎Tidak hanya mendapatkan materi teori, para peserta juga mengikuti sesi praktik langsung di dapur. Pada sesi ini, petugas diberikan simulasi mengenai tahapan kerja sesuai SOP yang telah ditetapkan. Mulai dari pemeriksaan bahan baku yang masuk, proses pencucian bahan makanan, pengolahan yang memenuhi standar sanitasi, hingga pengemasan dan pendistribusian makanan dilakukan sesuai prosedur yang benar.

‎Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga sanitasi lingkungan dapur sebagai salah satu faktor utama dalam menjamin keamanan pangan. Lingkungan dapur yang bersih dan sehat dinilai mampu meminimalkan risiko berkembangnya bakteri, virus, maupun mikroorganisme lain yang berpotensi mencemari makanan.

‎Materi lain yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah pengendalian risiko kontaminasi silang. Petugas diberikan penjelasan mengenai cara memisahkan bahan makanan mentah dan matang, penggunaan peralatan yang sesuai, serta pentingnya menjaga kebersihan tangan dan perlengkapan kerja selama proses pengolahan makanan berlangsung.

‎Tidak kalah penting, peserta juga dilatih mengenai tata cara pencucian dan sanitasi peralatan dapur yang benar. Proses pembersihan peralatan yang tidak sesuai standar dapat menjadi salah satu sumber kontaminasi yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan bagi konsumen.

‎Suasana pelatihan berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi yang diberikan, baik saat penyampaian materi maupun ketika mengikuti simulasi praktik di lapangan. Berbagai pertanyaan dan diskusi muncul selama kegiatan berlangsung, menunjukkan tingginya perhatian peserta terhadap pentingnya penerapan SOP dalam pengelolaan makanan.

‎Tenaga sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Majene menegaskan bahwa penerapan SOP tidak boleh hanya menjadi dokumen administrasi semata. SOP harus benar-benar dipahami dan dijalankan dalam aktivitas sehari-hari oleh seluruh petugas yang terlibat dalam proses pengelolaan makanan.

‎“Penerapan SOP bukan hanya sekadar untuk memenuhi kelengkapan dokumen atau persyaratan administrasi. Yang paling penting adalah bagaimana SOP tersebut diterapkan secara nyata dalam setiap tahapan pekerjaan demi menjamin keamanan pangan dan mencegah terjadinya keracunan makanan,” ujar salah satu tenaga sanitarian dalam kegiatan tersebut.

‎Dinas Kesehatan Kabupaten Majene berharap melalui bimbingan tahap ketiga ini seluruh petugas dapur SPPG semakin memahami pentingnya kedisiplinan dalam menerapkan prosedur kerja yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kualitas makanan yang diproduksi dapat terus terjaga dan memenuhi standar kesehatan yang berlaku.

‎Kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun budaya kerja yang lebih tertib, disiplin, profesional, dan berorientasi pada mutu pelayanan. Keamanan pangan menjadi aspek yang tidak dapat ditawar karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat yang menerima layanan makanan dari dapur SPPG.

‎Melalui pembinaan dan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, Dinas Kesehatan Kabupaten Majene berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan makanan di seluruh dapur SPPG. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memastikan setiap makanan yang disajikan kepada masyarakat aman, sehat, bergizi, dan terbebas dari risiko kontaminasi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Baca Juga  Ombudsman RI Evaluasi Layanan Publik di Disdikpora Majene

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *