Menelusuri Ketidakjelasan Kinerja Polsek Tapalang: Ketika Masyarakat Berteriak dalam Keheningan

Oleh : Arjuna

Pesisirmandar.com,Opini—Malam Minggu Tapalang: Penjaga yang Tertidur di Tengah Amuk Tawuran di Tapalang, Sulawesi Barat, malam minggu bukanlah waktu untuk beristirahat.

Tawuran antar kampung telah menjadi tontonan rutin yang penuh kekerasan, meskipun masyarakat jelas tidak menikmatinya. Dua kali serangan telah terjadi, namun perdamaian yang diupayakan tidak lebih dari kesepakatan sementara, yang pada akhirnya hanya memicu balas dendam baru. Polisi datang, menawarkan perdamaian tanpa sanksi atau tindakan tegas. Ironisnya, “perdamaian” ini hanyalah jeda sementara sebelum kekerasan kembali meletus.

Masyarakat pun bertanya-tanya, “Apa fungsi polisi jika hanya sekadar menambal luka yang akan terbuka kembali?” Mereka tidak hanya menginginkan janji damai; mereka butuh keadilan dan tindakan tegas untuk memastikan kekerasan benar-benar dihentikan.

Namun, di balik kantor Polsek Tapalang, tampaknya lebih banyak kesibukan di meja kartu dibandingkan di meja laporan. Para polisi lebih mahir mengocok kartu daripada mengurai konflik yang terus menjerat masyarakat. Tidak ada laporan resmi, klaim mereka, seolah semua ini hanyalah imajinasi. Padahal, perilaku pelaku kejahatan jelas terlihat oleh semua orang, seakan-akan hukum di Tapalang hanyalah sebuah ilusi.

Baca Juga  Menata dan Menatap arah kualiatas Perkaderan HMI Cabang Mejene

Jerigen BBM dan Hantu Malam

Di sisi lain, malam di Tapalang membawa keheningan yang menakutkan. Namun, di balik keheningan itu, aktivitas ilegal terus berlangsung. Penimbunan BBM ilegal sudah menjadi rahasia umum. Setiap malam, kendaraan dari kampung-kampung sekitar datang dengan jerigen penuh, bahkan ada yang menggunakan mobil. Mereka datang, mengisi, dan pergi, seolah-olah tidak ada polisi yang berwenang di sini. Apa yang dilakukan polisi? Entah. Yang jelas, bisnis haram ini berjalan lancar tanpa hambatan.

Masyarakat sering melihat adegan ini, bahkan bukti-buktinya telah viral di media sosial, memperlihatkan pengepul BBM datang di depan SPBU tengah malam atau menjelang subuh. “Setiap malam,” ungkap seorang warga, “pasti ada kendaraan penuh jerigen yang datang. Mobil-mobil dengan jerigen besar sudah seperti tamu rutin di sini. Padahal, Polsek hanya di sebelah, tetapi semua seolah tidak terlihat oleh mereka.”

Baca Juga  Demokrasi Digital: Terombang-ambing di Dunia Maya, Tanggung Jawab Kader HMI Opini Publik

Racun Dalam Kegelapan: Obat-Obatan di Kalangan Remaja

Ancaman lain yang lebih halus namun berbahaya adalah peredaran obat-obatan terlarang. Generasi muda Tapalang, bahkan yang masih berusia SMP, mulai terjebak dalam jaringan ini. Tanpa mereka sadari, masa depan mereka hancur perlahan oleh racun yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat resah, tetapi masalah ini seolah tidak pernah sampai ke telinga polisi. Di manakah suara peringatan dari Polsek Tapalang? Tampaknya tenggelam oleh suara kartu yang dikocok di meja belakang.

Ketidakjelasan Tindakan, Ketidakjelasan Harapan

Berbagai permasalahan yang ada semakin membuat masyarakat frustrasi. “Polsek Tapalang seperti tidak berfungsi. Tawuran, penimbunan BBM, peredaran obat-obatan terlarang, semuanya sudah viral di media sosial, tetapi tidak ada tindakan tegas. Polisi seharusnya menjadi pelindung masyarakat, tetapi apa yang mereka lakukan?”

Baca Juga  Pencarian Nelayan Hilang di Perairan Babana Mamuju Tengah Terus BerlanjutPencarian Nelayan Hilang di Perairan Babana Mamuju Tengah Terus Berlanjut

Perilaku ini jelas terlihat di depan mata. Sementara itu, generasi muda, yang seharusnya menjadi harapan bangsa, tergerus oleh narkoba dan kekerasan. Polisi, yang seharusnya hadir untuk melindungi masyarakat, justru terlihat abai dan tidak peduli.

Polisi bukan sekadar penonton dalam drama kehidupan masyarakat. Mereka adalah aktor utama yang seharusnya memegang kendali. Namun, di Tapalang, peran ini tampaknya telah mereka lepaskan, membiarkan masyarakat terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sampai kapan drama ini akan berlangsung? Sampai kapan masyarakat harus menunggu tindakan nyata?

Tapalang membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran fisik polisi. Mereka membutuhkan kepastian hukum, ketegasan dalam tindakan, dan kehadiran yang benar-benar dirasakan, bukan hanya sekadar bayangan yang melintas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *