‎Dinas Kesehatan Majene Laksanakan Pemetaan Wilayah Reseptif Malaria di Pamboang‎

pesisirmandar.com,Majene – Sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit menular, Dinas Kesehatan Kabupaten Majene melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) melaksanakan kegiatan Pemetaan Wilayah Reseptif Malaria di wilayah kerja Puskesmas Pamboang, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan wilayah terhadap potensi penularan malaria sekaligus menjadi langkah strategis dalam mempertahankan kondisi wilayah yang sehat dan bebas dari penyebaran penyakit tersebut.

‎Pemetaan wilayah reseptif malaria merupakan salah satu metode surveilans kesehatan yang bertujuan mengetahui kondisi lingkungan, keberadaan vektor penular malaria, serta berbagai faktor risiko yang dapat mendukung terjadinya penularan. Data yang diperoleh dari kegiatan ini nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun program pencegahan dan pengendalian malaria yang lebih efektif dan tepat sasaran.

‎Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Majene bersama petugas Puskesmas Pamboang turun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dan pengumpulan data di sejumlah lokasi yang dinilai memiliki potensi sebagai habitat nyamuk Anopheles, yakni nyamuk yang berperan sebagai vektor penular malaria.

‎Dalam pelaksanaannya, petugas melakukan penelusuran wilayah yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk, seperti genangan air yang tidak terkelola, saluran drainase yang tidak mengalir dengan baik, area rawa, serta lingkungan sekitar permukiman penduduk. Setiap lokasi diamati secara detail guna mengetahui kemungkinan adanya faktor lingkungan yang dapat mendukung perkembangan populasi nyamuk.

‎Selain melakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan, tim juga melakukan pengkajian terhadap riwayat kasus malaria yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Informasi ini penting untuk mengetahui pola penyebaran penyakit serta mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi mengalami penularan apabila tidak dilakukan langkah-langkah pencegahan yang memadai.

‎Aspek mobilitas penduduk turut menjadi perhatian dalam kegiatan pemetaan ini. Petugas mengumpulkan informasi terkait aktivitas masyarakat yang sering bepergian ke daerah lain, khususnya wilayah yang masih memiliki kasus malaria. Mobilitas penduduk dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap masuknya kasus malaria dari luar daerah.

‎Tidak hanya itu, perilaku masyarakat yang berkaitan dengan risiko penularan malaria juga menjadi bagian dari kajian lapangan. Petugas melakukan wawancara dan pengamatan mengenai kebiasaan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan kelambu saat tidur, serta langkah-langkah pencegahan yang dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk.

‎Kegiatan pemetaan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat, khususnya warga Sumuria yang merasa senang dan terbantu dengan kehadiran petugas kesehatan di wilayah mereka. Kehadiran tim kesehatan dianggap sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kondisi kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

‎Salah seorang warga Sumuria mengungkapkan rasa syukurnya karena wilayah mereka menjadi sasaran kegiatan pemetaan dan pemantauan kesehatan lingkungan. Menurutnya, masyarakat merasa lebih diperhatikan dan mendapatkan pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga lingkungan agar terhindar dari berbagai penyakit, termasuk malaria.

‎“Kami sangat senang karena petugas kesehatan datang langsung ke wilayah kami. Selain melakukan pemeriksaan lingkungan, mereka juga memberikan penjelasan tentang cara mencegah malaria dan menjaga kebersihan lingkungan. Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap salah seorang warga.

‎Tim Dinas Kesehatan juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya malaria, cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri. Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan dan melindungi keluarga dari risiko penyakit menular.

‎Menurut petugas kesehatan, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengendalian malaria. Lingkungan yang bersih dan bebas dari tempat perindukan nyamuk dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah dan segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

‎Hasil dari pemetaan wilayah reseptif malaria ini nantinya akan dianalisis dan dijadikan dasar dalam penyusunan strategi pengendalian malaria di Kabupaten Majene. Data tersebut juga akan digunakan untuk menentukan wilayah prioritas yang memerlukan intervensi lebih lanjut, baik melalui kegiatan pengendalian vektor, penyuluhan kesehatan, maupun peningkatan surveilans penyakit.

‎Dinas Kesehatan Kabupaten Majene menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pemantauan dan berbagai langkah preventif guna mencegah munculnya kembali kasus malaria. Melalui kegiatan pemetaan yang dilakukan secara berkala, diharapkan potensi risiko penularan dapat dideteksi lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

‎Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pencegahan malaria. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan Kabupaten Majene yang sehat, aman, dan terbebas dari ancaman penyakit malaria.

Baca Juga  Rehabilitasi SMPN 8 Satap Sendana Bangkitkan Semangat Baru Dunia Pendidikan Majene

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *