IMP-MAJENE DISKUSIKAN DAN PUBLISH BUKU JEJAK SERAT PURBA SINJOLU

Ikatan Mahasiswa Pasangkayu (IMP) Majene bersama MAMMESA menggelar diskusi publik dengan tema kebudayaan dan kemanusiaan di Dondori Coffee bekerja sama Vova Institute, media online PesisirMandar.com dan Koran Online Tayang9.com mengupas dan mengulik buku Jejak Serat Purba Sinjolu: Kain Kulit Kayu dari Pakawa, sebuah karya yang mengangkat keberadaan, pengetahuan, dan jejak kebudayaan kain kulit kayu masyarakat Pakawa, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Dalam diskusi buku yang berlangsung di Dondori Coffee, Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 20.00–23.45 WITA, secara khusus menghadirkan penulis buku, Fauzan Azima, sebagai narasumber, dengan Aba Tammalele sebagai keynote speaker. Editor buku, M. Syariat Tajuddin, turut hadir sebagai pemateri, sementara Muhammad Irfan Syarif, S.H., bertindak sebagai moderator.

Dalam pengantar awal diskusi, Muhammad Irfan Syarif mengatakan, Buku Jejak Serat Purba Sinjolu: Kain Kulit Kayu dari Pakawa menjadi penting karena tidak sekadar mendokumentasikan sebuah produk budaya, tetapi juga menelusuri pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan serat kulit kayu yang telah menjadi bagian dari jejak historical dan substantif kehidupan dan kebudayaan masyarakat Pakawa di Kabupaten Pasangkayu.

Baca Juga  Disdikpora Majene Siap Turun Lapangan Dukung Majene Mappaccing dan Penilaian Adipura

“Diksusi buku ini menjadi amat penting artinya bagi kita, karena ini adalah peristiwa kebudayaan yang merayakan karya pendokumentasian kebudayaan yang penting bagi kita. Utamanya bagi teman-teman mahasiswa dan bagi kita-kita yang masih berharap keberadaan generasi yang bersedia memberikan waktu untuk meregenerasi budaya yang bisa saja punah. Karena belajar kebudayaan adalah belajar tentang diri kita,” ujar Muhammad Irfan Syarif yang juga dikenal sebagai aktivis ini.

Dalam kesempatan yang sama, Fauzan Azima, penulis Sinjolu mengatakan, “dalam konteks kebudayaan Pakawa, tidak hanya dapat dilihat sebagai benda atau kain tradisional. Di balik proses pembuatannya terdapat pengetahuan lokal mengenai environmental ethics, pemanfaatan tumbuhan, teknik pengolahan bahan, skill, pola, serta pewarisan pengetahuan antargenerasi. Karena itu, keberadaan sinjolu merupakan bagian dari jejak budaya masyarakat suku inde sebagai penjaga tradisi kulit kayu yang penting untuk terus kita dokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi muda dan itulah yang sedang kami lakukan”.

Baca Juga  Pencarian Nelayan Hilang di Perairan Babana Mamuju Tengah Terus BerlanjutPencarian Nelayan Hilang di Perairan Babana Mamuju Tengah Terus Berlanjut

Senada dengan itu, Aba Tammalele budayawan Mandar Sulawesi Barat mengatakan, “ini adalah ruang untuk melihat bagaimana kebudayaan lokal atau warisan leluhur menghadapi perubahan zaman disatu sisi, dan di sisi yang lainnya kita juga hendak membangun semangat kepada kaum muda untuk membangun kegilaan kreatifitasnya dalam melakukan kerja-kerja kreatif seperti menulis dan mendokumentasikan semua tinggalan leluhur yang nyaris punah”. Selain itu A’ba Tammalele juga menambahkan “Dibalik jejak purba sinjolu ini ada bagian spiritual yang bernilai tinggi serta harus diriset lebih lanjut untuk memaksimalkan pendokumentasian pola kehidupan di desa Pakawa dengan keberadaanya yang masih mengedepankan nilai-nilai etik lingkungan yang masih sangat terpelihara”. Tutupnya

M Syariat Tajuddin selaku editor buku dalam diskusi itu lebih banyak menyinggung tentang tantangan kebudayaan yang tengah dihadapi, berupa semakin berkurangnya pelaku yang menguasai keterampilan tradisional, perubahan pola kehidupan masyarakat, serta semakin jauhnya generasi muda dari pengetahuan budaya leluhur. Sehingga bagi Syariat, buku Jejak Serat Purba Sinjolu adalah rujukan bagi akademisi, mahasiswa, periset, penggiat budaya, penggiat dan oemerhati lingkungan, pemerintah, bahkan media sekalipun karena sinjolu dipandang sebagai upaya dokumentasi sekaligus bentuk penyelamatan pengetahuan kebudayaan.

Baca Juga  Pengabdian Hilirisasi Unsulbar di Desa Alu, Dorong Petani Aren Masuk Era Digital

Kegiatan meresenai buku ini bagi sang editor buku M. Syariat Tajuddin lebih jauh menegaskan “Bahwa buku ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi kebudayaan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas masyarakat Sulawesi Barat. Mengenal sinjolu berarti tidak hanya mengenal sebuah kain kulit kayu, tetapi juga membaca hubungan manusia dengan alam, kerja tangan, pengetahuan leluhur, dan perjalanan kebudayaan sebuah komunitas”. Tegasnya.

Jejak Serat Purba Sinjolu: Kain Kulit Kayu dari Pakawa ditulis oleh Fauzan Azima dan diterbitkan oleh Penerbit Mammesa dengan dukungan Fasilitasi Pemajuan Kebudayan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah. Buku ini menghadirkan dokumentasi mengenai kain kulit kayu dari Pakawa serta pengetahuan kebudayaan yang melekat di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *