Pesisirmandar.com, Majene – Dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Marasana bekerja sama dengan Magdalene menyelenggarakan workshop bertema “Membangun Masa Depan Setara di Semua Aspek Kehidupan”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Universitas Terbuka (UT) Majene dan dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, serta perwakilan organisasi di Kabupaten Majene. Sabtu,(21/12/24)
Workshop ini digagas oleh Muh. Agus Syam, mahasiswa Universitas Terbuka Majene dan peserta Youth Leadership Camp di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada 13–15 September 2024. Kegiatan ini merupakan implementasi dari pembelajaran yang diperoleh Muh. Agus Syam selama mengikuti camp tersebut, dengan tujuan menciptakan ruang diskusi yang inklusif sekaligus memperluas pemahaman tentang kesetaraan gender.
Universitas Terbuka Majene turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan workshop ini. Kampus tersebut dikenal konsisten mendorong mahasiswanya untuk berkreasi dan menginisiasi kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Kami sangat mendukung mahasiswa untuk berkontribusi dalam isu-isu sosial, termasuk kesetaraan gender,” ujar salah satu perwakilan Universitas Terbuka Majene.
Dua Narasumber Berpengalaman
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Andi Irma T. Nilawati, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Majene, serta Sugisman, seorang pegiat literasi, penulis, dan dosen di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Majene.
Dalam pemaparannya, Andi Irma T. Nilawati menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam menciptakan masyarakat yang inklusif.
“Kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, tetapi juga isu masyarakat yang harus didukung oleh semua pihak, terutama generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Sugisman mengulas kesetaraan gender dari perspektif agama. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai keadilan dan penghormatan terhadap semua individu tanpa membedakan jenis kelamin merupakan inti dari ajaran agama.
“Kesetaraan gender tidak bertentangan dengan ajaran agama. Justru, agama mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban setara di hadapan Tuhan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan amal perbuatan,” ungkapnya.
Antusiasme dan Harapan
Workshop ini bertujuan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kesetaraan gender serta mendorong peran aktif generasi muda dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi diskusi, aktif menyampaikan ide, dan memberikan gagasan dalam sesi tanya jawab.
“Acara ini sangat inspiratif. Saya jadi lebih paham bahwa kesetaraan gender harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar,” ujar salah satu peserta.
Dengan berakhirnya workshop, panitia berharap akan ada tindak lanjut berupa program-program konkret yang mendukung terwujudnya masa depan yang setara di Kabupaten Majene dan sekitarnya. Membangun kesetaraan gender di semua aspek kehidupan bukan hanya sebuah harapan, tetapi juga sebuah komitmen bersama.
(pesisirmandar/Red)

