Balutan Kain Warisan Daerah: Puskesmas Banggae 1 Jadikan Sutra Mandar Bagian Budaya Kerja

pesisirmandar.com,Majene – Suasana berbeda tampak di lingkungan UPTD Puskesmas Banggae 1 pada Jumat, 22 Mei 2026. Seluruh tenaga kesehatan dan staf tampil kompak mengenakan seragam batik sutra Mandar dengan motif khas yang mencerminkan identitas instansi. Kebersamaan yang terjalin dalam balutan kain tradisional tersebut menjadi simbol kekompakan, kebanggaan terhadap budaya lokal, sekaligus semangat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

‎Penggunaan seragam batik sutra Mandar merupakan bagian dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah Kabupaten Majene yang mewajibkan seluruh perangkat daerah dan instansi pemerintah mengenakan pakaian dinas bercorak khas sutra Mandar setiap hari Kamis.

‎Kebijakan tersebut tidak hanya menjadi aturan berpakaian, tetapi juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap pelestarian budaya daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun.

‎Di lingkungan UPTD Puskesmas Banggae 1, seragam tersebut dikenakan dengan penuh kebanggaan oleh seluruh pegawai. Motif dan warna yang digunakan disesuaikan dengan identitas instansi sehingga menciptakan kesan harmonis, rapi, dan profesional saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

‎Kehadiran seluruh pegawai dengan busana yang seragam juga memperlihatkan eratnya rasa kekeluargaan di lingkungan kerja.

‎Tidak hanya tenaga medis, tetapi juga tenaga administrasi dan seluruh unsur pendukung pelayanan ikut mengenakan batik sutra Mandar sebagai bentuk kebersamaan dalam menjalankan tugas.

‎Selain memperkuat solidaritas antarpegawai, penggunaan batik sutra Mandar menjadi media untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang datang berobat maupun kepada tamu yang berkunjung ke Puskesmas.

‎Kain sutra Mandar yang menjadi salah satu warisan budaya Sulawesi Barat diharapkan semakin dikenal dan dicintai oleh generasi muda melalui pemanfaatannya dalam aktivitas sehari-hari.

‎Pemanfaatan busana tradisional dalam lingkungan pemerintahan juga menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dapat berjalan beriringan dengan pelayanan publik yang modern dan profesional.

‎Penampilan yang rapi dan bernuansa lokal memberikan kesan hangat serta menghadirkan kedekatan emosional antara petugas kesehatan dan masyarakat.

‎Kepala UPTD Puskesmas Banggae 1, dr. Surijanti Jaddu, menegaskan bahwa penggunaan seragam batik sutra Mandar memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar identitas pakaian dinas.

‎”Melestarikan budaya, mempererat kebersamaan, dan meningkatkan semangat pelayanan untuk masyarakat,” ujar dr. Surijanti Jaddu.

‎Menurutnya, semangat menjaga budaya daerah harus menjadi bagian dari budaya kerja aparatur pemerintah, termasuk di sektor kesehatan. Dengan mengenakan batik sutra Mandar, para pegawai diharapkan semakin bangga terhadap identitas daerah sekaligus termotivasi untuk memberikan pelayanan yang ramah, cepat, dan berkualitas.

‎Kebersamaan yang tercermin dari penggunaan seragam tersebut juga menjadi energi positif dalam membangun lingkungan kerja yang harmonis.

‎Kekompakan antarseluruh pegawai diyakini mampu meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.

‎Melalui langkah sederhana namun sarat makna ini, UPTD Puskesmas Banggae 1 tidak hanya menjalankan tugas pelayanan kesehatan, tetapi juga turut berperan sebagai pelestari budaya lokal.

‎Balutan batik sutra Mandar menjadi simbol bahwa kearifan lokal dapat terus hidup di tengah dinamika pelayanan publik, menghadirkan identitas yang elegan, modern, serta memperkuat semangat pengabdian bagi masyarakat Kabupaten Majene.

Baca Juga  Kadisdikpora Majene Ingatkan Kepala Sekolah Rutin Rawat Gedung dan Sarana Sekolah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *