pesisirmandar.com, Polewali – Formateur Ketua Umum Badan Kordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO-HMI) Sulawesi Barat, Muh. Ridwan, menegaskan bahwa penggunaan nama BADKO HMI Sulselbar sudah tidak relevan seiring dengan pembentukan resmi BADKO HMI Sulawesi Barat. Pembentukan ini merupakan bagian dari restrukturisasi wilayah teritorial organisasi HMI yang bertujuan memperkuat kaderisasi dan pelayanan organisasi di wilayah Sulawesi Barat. Sabtu,(28/12/24)
Ridwan menambahkan, pihak-pihak yang masih menggunakan nomenklatur “Sulselbar” dianggap tidak sejalan dengan keputusan resmi organisasi. Pemisahan wilayah antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah ditetapkan sesuai dengan pembagian teritorial organisasi. Penggunaan istilah “Sulselbar” tidak hanya bertentangan dengan keputusan tersebut, tetapi juga berisiko menimbulkan kebingungan di kalangan kader dan masyarakat.
Ia menjelaskan, pemisahan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran masing-masing BADKO sesuai dengan wilayahnya. BADKO HMI Sulawesi Barat kini fokus membangun kaderisasi dan mengatasi tantangan pembangunan di wilayahnya, sementara BADKO HMI Sulawesi Selatan mengelola wilayahnya secara terpisah. Oleh karena itu, penggunaan nama “Sulselbar” dianggap sudah tidak relevan dan harus dihentikan.
Ridwan mengimbau agar seluruh kader dan pengurus HMI menghormati keputusan ini. Menurutnya, pemisahan wilayah bukan untuk memecah organisasi, tetapi untuk memperkuat sinergi dan efektivitas kerja di masing-masing wilayah. BADKO HMI Sulawesi Barat berkomitmen untuk memperjuangkan kepentingan kader dan masyarakat di wilayah Sulawesi Barat, serta memperkuat peran HMI di berbagai sektor.
“Melalui pernyataan ini, kami berharap tidak ada lagi pihak yang mempertahankan penggunaan nama BADKO HMI Sulselbar. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi profesionalisme dan nilai historis, kami berharap seluruh pihak mendukung pemisahan wilayah ini demi keselarasan dan kemajuan HMI,” tegasnya.
(Red)
