‎Marak Bunuh Diri dan Pembunuhan di Sulbar, Akademisi STAIN Majene Soroti Krisis Komunikasi Sosial

pesisirmandar.com, Majene — Kasus bunuh diri dan pembunuhan yang semakin sering muncul di Sulawesi Barat akhir-akhir ini patut menjadi keprihatinan kita bersama.

‎Hal tersebut disampaikan Fathiyah Jamil, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Majene, saat diwawancarai melalui via Whatsapp pada Senin,(29/9/2025).

‎“Tentu saja ini bukan sekadar persoalan individu yang gagal menghadapi masalah hidup, tetapi juga mencerminkan adanya krisis yang lebih besar yakni krisis komunikasi sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

‎Banyak kasus pembunuhan ataupun bunuh diri justru dipicu hal-hal yang tampak sepele, namun jika ditelisik lebih dalam, persoalannya tidak sesederhana itu. Hal yang terlihat kecil sering kali hanyalah pemicu, sementara akar persoalannya terletak pada ketiadaan ruang aman untuk berbicara, lemahnya budaya saling mendengar, serta hilangnya kemampuan masyarakat dalam mengelola konflik melalui dialog. Ketika komunikasi sosial runtuh, masalah kecil akan menjelma menjadi tragedi besar.

‎Krisis komunikasi terlihat pada ketiadaan ruang aman untuk berbicara. Banyak individu yang mengalami tekanan hidup memilih diam, karena takut dihakimi atau dianggap lemah, yang pada akhirnya berubah menjadi keterasingan yang melahirkan keputusasaan. Padahal komunikasi sosial yang seharusnya hadir untuk memberi rasa aman karena memberi ruang untuk berbagi malah gagal memberi ruang untuk didengar dan dipahami.

‎Akan tetapi, pada aspek yang lain, media dan media sosial ikut memperparah situasi ini. Pemberitaan yang terlalu sensasional tentang bunuh diri dan kekerasan bisa menimbulkan efek penularan (copycat effect), di mana orang lain yang sedang rapuh dapat terdorong untuk meniru.

‎Teori Kultivasi dari George Gerbner bisa membantu memahami situasi. Teori ini menjelaskan bahwa semakin sering seseorang terpapar konten media tertentu, semakin besar pula kemungkinan ia memandang dunia sesuai dengan gambaran media itu. Jika media terus-menerus menayangkan kasus bunuh diri dan pembunuhan secara dramatis, masyarakat bisa terbiasa dengan narasi kekerasan dan memandangnya sebagai sesuatu yang wajar dan normal.

‎“Inilah yang berbahaya, media seharusnya menjadi sarana edukasi dan pencegahan, tetapi justru bisa menormalisasi kekerasan bila tidak dikelola secara etis. Masyarakat yang terus-menerus melihat kekerasan melalui pemberitaan bisa kehilangan sensitivitas, bahkan menganggap jalan kekerasan sebagai solusi sah untuk masalah hidup,” kata Fathiyah.

‎Untuk keluar dari lingkaran krisis komunikasi sosial ini, masyarakat Sulawesi Barat perlu membangun kembali budaya percakapan yang sehat. Itu bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menghadirkan ruang aman di keluarga dan masyarakat untuk saling mendengar tanpa menghakimi, mengedepankan dialog dan mediasi dalam setiap konflik.

‎Di sisi lain, media massa dan media sosial juga perlu lebih bijak dalam menyajikan isu-isu sensitif agar tidak memperburuk kondisi psikologis masyarakat. Dengan komunikasi sosial yang lebih empatik, terbuka, dan penuh tanggung jawab, diharapkan tragedi bunuh diri maupun pembunuhan tidak terus berulang.

Baca Juga  Mahasiswa KPI STAIN Majene Gelar Nobar Film Perdana, Angkat Isu Cinta, Toleransi, dan Dakwah Milenial‎

Ikuti Berita Terbaru

Dapatkan berita terbaru dan terpercaya di ponsel Anda dengan mengakses saluran pesisirmandar.com melalui WhatsApp : https://whatsapp.com/channel/0029Vavk6qe8qJ01a0SjC33e

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *