pesisirmandar.com,Majene – Kinerja Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kabupaten Majene pada Minggu Epidemiologi (ME) ke-24 Tahun 2026 menunjukkan capaian positif. Seluruh fasilitas kesehatan pelapor berhasil mencapai tingkat ketepatan dan kelengkapan laporan sebesar 100 persen.
Capaian tersebut menunjukkan sistem surveilans kesehatan di Kabupaten Majene berjalan optimal dalam mendukung deteksi dini dan respon cepat terhadap potensi kejadian penyakit.
Berdasarkan Buletin SKDR Kabupaten Majene, sebanyak 13 unit pelapor menyampaikan laporan secara lengkap dan tepat waktu. Dari hasil pemantauan, tercatat sembilan kejadian berstatus siaga SKDR dan seluruhnya berhasil diverifikasi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Selain itu, tidak terdapat kejadian yang belum terverifikasi. Enam unit pelapor yang berada pada status siaga juga telah melakukan respon sesuai standar, sehingga capaian respon penanganan mencapai 100 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Dra. Yuliani, mengatakan data Penyakit Berbasis Indikator (Indicator Based Surveillance/IBS) menunjukkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi.
“ISPA tercatat sebanyak 227 kasus selama periode pemantauan,” ujar Yuliani, Selasa (23/6/2026).
Selain ISPA, kasus Diare Akut tercatat sebanyak 69 kasus. Sementara itu, terdapat enam kasus suspek demam tifoid, enam kasus pneumonia, serta tiga kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR).
Berdasarkan wilayah kerja puskesmas, Puskesmas Totoli mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi dengan 43 kasus. Disusul Puskesmas Sendana I dan Puskesmas Banggae I yang masing-masing melaporkan 32 kasus, Puskesmas Banggae II sebanyak 28 kasus, serta Puskesmas Lembang dengan 24 kasus.
Pada pemantauan Surveilans Berbasis Kejadian (Event Based Surveillance/EBS), tercatat tiga laporan rumor yang seluruhnya telah diverifikasi. Tidak ada laporan yang masih dalam proses penyelidikan maupun yang dinyatakan dihapus.
Hasil verifikasi menunjukkan dua kasus GHPR dan satu kasus Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD). Seluruh kasus tersebut dilaporkan tanpa adanya kematian, dan satu kasus telah ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor sebagai langkah pencegahan dan pengendalian.
Menurut Yuliani, capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya sistem kewaspadaan dini di Kabupaten Majene. Keberhasilan menjaga ketepatan pelaporan, mempercepat proses verifikasi, serta memastikan respon terhadap setiap sinyal kewaspadaan menjadi faktor penting dalam mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pemerintah Kabupaten Majene melalui jejaring surveilans kesehatan terus mengajak seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular.
“Dengan pelaporan yang cepat, deteksi yang akurat, dan respon yang tepat waktu, perlindungan kesehatan masyarakat dapat terus diperkuat sesuai semangat SKDR, yakni Deteksi Dini, Respon Cepat, Lindungi Masyarakat,” katanya.

