Oleh : Hendra Wahid
pesisirmandar.com, Opini — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) baru saja merayakan milad yang ke-78, sebuah usia yang cukup panjang dengan sejarah dan perjalanan yang penuh dinamika. Sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, HMI telah melahirkan banyak tokoh penting yang berperan dalam perjuangan bangsa ini. Namun, di balik perayaan seremonial yang megah tersebut, ada sebuah otokritik yang perlu direnungkan oleh seluruh kader HMI, bahwa milad HMI bukan sekadar ajang perayaan yang hanya diisi dengan acara seremonial dan rutinitas tahunan tanpa makna yang mendalam. Milad ini seharusnya menjadi momen untuk refleksi, introspeksi, dan evaluasi terhadap perjalanan HMI selama ini serta kontribusinya terhadap masyarakat dan bangsa.
Sebagai organisasi yang didirikan pada tahun 1947, HMI memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia. Banyak pemimpin bangsa yang berasal dari HMI, yang menunjukkan betapa pentingnya peran HMI dalam mencetak pemimpin-pemimpin yang visioner. Namun, jika kita melihat realitas saat ini, ada kecenderungan bahwa HMI mengalami penurunan kualitas dalam hal kontribusi sosial dan intelektual. Organisasi ini seolah terjebak dalam rutinitas internal yang lebih banyak berbicara tentang administrasi organisasi daripada masalah sosial yang lebih besar.
Salah satu otokritik terbesar terhadap HMI adalah kurangnya kontribusi nyata dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. HMI harus menyadari bahwa sebagai organisasi yang mengklaim dirinya sebagai bagian dari kekuatan intelektual dan sosial di Indonesia, sudah seharusnya lebih banyak terlibat dalam masalah-masalah sosial dan pemberdayaan masyarakat. Program-program yang ada seharusnya tidak hanya berhenti pada acara seminar atau diskusi yang hanya dinikmati oleh sesama kader, tetapi lebih berfokus pada pemberdayaan masyarakat secara langsung. Dalam banyak kesempatan, HMI masih terlihat lebih sibuk dengan urusan internal, seperti pergantian pengurus, daripada memberikan kontribusi konkret bagi masyarakat luas. Hal ini tentu bertolak belakang dengan cita-cita HMI yang ingin memberikan solusi atas masalah-masalah bangsa dan umat.
Selain itu, perlu ada evaluasi terhadap kualitas kader yang dilahirkan oleh HMI. Pengkaderan di HMI harus lebih ditekankan pada pengembangan kualitas individu, bukan hanya pada sisi organisasi semata. HMI seharusnya menjadi tempat bagi kader-kadernya untuk menggali potensi diri, meningkatkan kapasitas intelektual, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang berbasis pada integritas, keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, dalam prakteknya, terkadang HMI lebih sering dipandang sebagai tempat untuk mencari relasi, posisi, atau bahkan kekuasaan, bukan sebagai wadah untuk mengasah kepemimpinan yang mumpuni. Oleh karena itu, HMI perlu memperkuat pengkaderannya dengan memperkenalkan nilai-nilai kejujuran, keberanian untuk bertindak sesuai dengan kebenaran, serta semangat untuk mengabdi kepada masyarakat tanpa pamrih.
Selain masalah internal, HMI juga harus berani menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Dunia kampus dan masyarakat telah berubah sangat cepat dengan munculnya berbagai permasalahan baru, seperti masalah sosial, politik, dan ekonomi yang semakin mendalam. Dalam konteks ini, HMI perlu lebih peka terhadap isu-isu kontemporer dan menjadikan dirinya sebagai motor penggerak perubahan yang tidak hanya bergerak dalam ruang akademis, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan politik yang nyata. HMI harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan idealismenya.
Pada akhirnya, otokritik terhadap HMI ini bukanlah bentuk pesimisme terhadap perjalanan panjang organisasi ini, tetapi sebuah ajakan untuk kembali pada tujuan awal HMI didirikan, yaitu untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa. Milad ke-78 seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi terhadap apa yang telah dicapai dan apa yang masih perlu diperbaiki. Jika HMI ingin tetap relevan dan menjadi organisasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat, maka sudah saatnya untuk berfokus pada penguatan kontribusi nyata, peningkatan kualitas kader, serta penerapan nilai-nilai pengabdian yang tulus dan penuh integritas. Dengan demikian, HMI tidak hanya akan dikenal sebagai organisasi yang berusia panjang, tetapi juga sebagai organisasi yang terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan umat.

