pesisirmandar.com, Polewali Mandar – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar (Polman) menyampaikan tanggapan keras terkait insiden pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota kepolisian terhadap salah satu kader HMI. Peristiwa ini terjadi pada 1 Januari 2025 dan menuai kecaman luas dari berbagai pihak. Sabtu,(4/1/25)
Dalam pernyataannya, Ketua Umum HMI Polman Ahmad Idris mengecam tindakan kekerasan tersebut dan menegaskan bahwa aparat keamanan seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan sebaliknya.
“Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras tindakan kekerasan ini. Tindakan tersebut tidak hanya melukai kader kami secara fisik tetapi juga mencoreng citra institusi kepolisian di mata masyarakat,” tegasnya.
HMI Polman meminta pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini dan memberikan sanksi tegas kepada oknum yang terlibat. Ketua Umum juga menyerukan agar seluruh anggota HMI tetap tenang dan tidak terpancing melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi.
“Kami mendesak Kapolda, Kapolri serta Menko Polkam untuk bertindak cepat mengevaluasi Institusi kepolisian hingga sistem rekruitmen. Khusunya Kapolda Sulbar harus transparan dalam menangani kasus ini. HMI akan terus mengawal proses hukum hingga tuntas, karena kami percaya pada supremasi hukum,” tambah Idris.
Selain itu, HMI Polman telah menggelar aksi damai untuk menyuarakan keadilan dan mendesak reformasi di tubuh institusi kepolisian agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.
Sementara itu, pihak kepolisian Polman telah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan segera memberikan atensi atas insiden tersebut agar menangani sesuai hukum yang berlaku.
HMI berharap insiden ini menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan antara masyarakat, khususnya mahasiswa, dengan institusi keamanan demi menciptakan suasana yang lebih harmonis dan berkeadilan.
Sebelumnya, dilansir Detiksulsel sebanyak 7 oknum anggota Polda Sulbar dikenakan sanksi penempatan khusus (patsus) gegara mengeroyok sejumlah kader HMI di Mamuju. Satu kader HMI bernama Ramli mengalami patah tulang hidung gegara dikeroyok.
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi di asrama putri Ikatan Pelajar Mahasiswa Mamuju Tengah (IPM-Mateng) di Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju pada Rabu (1/1) malam. Kejadian berawal saat ada anggota polisi datang ke asrama putri IPM-Mateng untuk mengunjungi pacarnya dan ditegur mahasiswa.
“Ini kan awal dari ini ada oknum polisi yang kurang beretika yang datang ke asrama putri IPM Mateng, sudah sekian kali ditegur, termasuk juga bapak yang punya kontrakan itu sudah menegur, akan tetapi tidak pernah mendengar,” ujar Ketua HMI Cabang Manakarra Anshar kepada wartawan, Kamis (2/1).
Kabid Humas Polda Sulbar Kombes Slamet Wahyudi turut membenarkan awal mula aksi pengeroyokan itu. Ia menyebut anggota polisi itu mendatangi asrama putri pada malam hari sehingga mendapat teguran.
“Sama-sama muda, sama-sama lajang, apel, kalau apel sudah kemalaman menyangkut etiknya sudah salah, kesopanannya kita sebagai adat orang timur juga kurang. Sehingga ada suatu pemuda yang mengingatkan, dan terjadilah suatu keributan,” kata Slamet.
Anggota polisi tersebut akhirnya menghubungi rekan-rekannya untuk datang ke lokasi. Saat tiba, sejumlah oknum polisi kemudian melakukan pengeroyokan.
Slamet mengatakan pihaknya tengah mengusut kasus ini. Sebanyak 7 anggota polisi yang diduga melakukan pengeroyokan telah disanksi penempatan khusus (patsus) dan diperiksa Propam Polda Sulbar.
“Ada 7 orang yang sekarang sedang dipatsus,” ujarnya.
(Rahman)

