Opini  

“Mamuju Keren”, Gimmick Receh Sang Pemimpin Milenial

Oleh: Ari Anggara

pesisirmandar.com, Opini — Selasa malam, 23 September 2025, Jackson Zeran benar-benar mengguncang Anjungan Pantai Manakarra. Lautan manusia yang didominasi oleh anak-anak muda membludak dan tumpah ruah hingga menyebabkan kemacetan parah, berdesak-desakan antara satu dengan yang lain demi menyaksikan langsung sang idola yang lagunya berkumandang hampir di setiap penjuru negeri. Manusia yang begitu banyak jumlahnya benar-benar larut oleh hentakan musik khas Indonesia Timur. Semua pengunjung yang hadir benar-benar ta’bola’ bale’, bahkan ada yang sampai ta’ berak-berak.

Namun, satu minggu sebelum Jackson Zeran mengguncang Anjungan Pantai Manakarra, ratusan honorer dan tenaga kontrak juga membanjiri halaman Kantor Bupati Mamuju untuk memperjuangkan nasibnya. Setelah berjam-jam berpanas-panasan, ratusan tenaga honorer yang didominasi kaum ibu-ibu dipaksa pulang dengan menahan sesak di dada oleh kecewa yang amat besar karena tak ada satu pun pejabat yang menemui mereka. Tiba-tiba semua pejabat daerah “pelesiran” keluar kota.

Di tempat lain, seorang balita bernama Muhammad Saad Abyan, anak dari seorang ibu bernama Nurmiah yang tinggal di Dusun Sodangan, Desa Uhaimate, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, divonis mengalami gizi buruk setelah di usianya yang menginjak 18 bulan berat badannya hanya mencapai 5,9 kilogram (kg). Padahal pemerintah telah menggelontorkan dana senilai Rp2.000.000.000,00 untuk program pangan bergizi yang menyasar ibu hamil dan balita di posyandu. Pertanyaannya, kenapa pemerintah bisa kecolongan? Apakah program tersebut hanya riak-riak bahkan sekadar kamuflase untuk menebalkan jargon “Mamuju Keren” yang selama ini sering diteriakkan dengan penuh kebanggaan di Instagram oleh seorang ibu-ibu dengan akun bernama Sutinah Suhardi, seolah-olah Mamuju benar-benar keren?

Baca Juga  Menata dan Menatap arah kualiatas Perkaderan HMI Cabang Mejene

Pemerintah Kabupaten Mamuju mengucurkan dana miliaran rupiah untuk pengaspalan berkilo-kilometer di Kota Mamuju. Namun, seorang pasien bernama M. Nasir harus meregang nyawa sebelum ia sempat mendapatkan penanganan medis. Bagaimana tidak, ia harus ditandu sejauh 21 kilometer yang memakan waktu 12–14 jam dari Desa Kopeang menuju Puskesmas Tapalang karena kondisi jalan yang rusaknya masyaallahuakbar.

Kejadian di atas hanyalah secuil dari sekian banyak hal memilukan yang terjadi di Kabupaten Mamuju, terutama di daerah-daerah terpencil. Entah bupatinya memang tidak peduli atau ia hanya tidak paham geografi sehingga mengira wilayah pelosok bukanlah bagian dari Kabupaten Mamuju. Akibatnya, pembangunan tidak merata karena dipusatkan di wilayah sekitar ibu kota kabupaten saja. Kalau memang seperti itu, sepertinya ia harus kembali ke bangku kelas tujuh untuk belajar geografi.

Katanya keren, tapi di tahun 2025 jumlah penduduk miskin ekstrem meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya hingga mencapai 21.947 jiwa yang hidup dalam keadaan miskin ekstrem. Padahal ekonomi bertumbuh hingga 4,76% yang membuktikan bahwa aktivitas perekonomian didesain untuk memperkaya beberapa kelompok saja, sehingga masyarakat yang kaya makin kaya, yang miskin jadi makin miskin. Katanya keren, tapi angka stunting di kabupaten jadi yang tertinggi di Sulawesi Barat dengan jumlah mencapai 4.622 kasus dan dikategorikan mengkhawatirkan oleh BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat.

Baca Juga  Menelusuri Ketidakjelasan Kinerja Polsek Tapalang: Ketika Masyarakat Berteriak dalam Keheningan

Di zaman Orde Baru, coretan dinding dari rakyat dianggap sebagai bentuk perlawanan dan menciptakan keresahan di kalangan pemerintah. Namun di tahun 2025, coretan “MAMUJU KEREN” yang terpampang di hampir tiap sudut kota dan digaungkan di semua platform media sosial oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju justru menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar di masyarakat tentang apakah Ibu Bupati tidak punya kemampuan melihat realita, atau ia hanya sedang berhalusinasi dan menganggap kerja-kerjanya sebagai sesuatu yang keren.

Bagaimana mungkin seorang bupati bisa dengan begitu percaya dirinya menyatakan di publik bahwa pemerintahannya adalah pemerintah yang keren, di saat pelaku tambang-tambang ilegal yang mengganggu mata pencaharian masyarakat di Desa Makaliki, Kecamatan Kalumpang, tidak bisa ia tertibkan?

Pemerintahan Tina–Yuki aromanya masih sama persis dengan pemerintahan Tina–Ado, mungkin karena nakhodanya masih sama, yaitu seorang pemimpin perempuan muda produk kerajaan dinasti politik daerah yang dibangun oleh ayahnya, dengan gaya kepemimpinan khas pemimpin milenial yang penuh dengan gimmick dan jargon-jargon yang terdengar keren di media sosial namun tidak berdampak nyata di masyarakat. Tim branding digitalnya begitu kuat membangun nama dan citra tuannya, namun tuannya sering gelagapan bahkan kadang menghilang ketika rakyat bertanya dan menagih jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah konkret di masyarakat. Ia hanya banyak memberikan motivasi-motivasi masuk angin yang bisa dipunguti di buku-buku catatan harian anak sekolah dasar dan sangat gemar obral mimpi yang mengawang-awang tentang masa depan Mamuju di masa kampanye yang sampai hari ini rasanya hanya seperti sebuah dongeng yang diceritakan oleh mahasiswa semester 13 di kantin kampus swasta di daerah kota kecil.

Baca Juga  Refleksi 78 Tahun HMI: Antara Seremonial, Tantangan Perkaderan, dan Masa Depan Organisasi

Padahal ada begitu banyak masalah, terutama perihal pelayanan kesehatan yang buruk, fasilitas penunjang pendidikan yang kurang memadai, ketersediaan bahan bakar untuk nelayan, ketersediaan pupuk untuk petani, pembangunan yang tidak merata, korupsi, kolusi, dan nepotisme di banyak satuan kerja perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Mamuju yang harus diperbaiki, dan masih banyak lagi.

Dan satu hal yang jadi catatan minor yang selamanya abadi dalam sejarah adalah tentang bagaimana sang tuan putri “mengibuli” masyarakat se-Kabupaten Mamuju dengan sebuah kartu sakti bernama Kartu Mamuju Keren yang saat ini hanya bisa digunakan sebagai pengganjal jendela kos-kosan.

Dari semua fenomena yang terjadi di Kabupaten Mamuju, kita bisa belajar bahwa Bupati Mamuju tidak pernah belajar.

penulis merupakan (Kabid Pendidikan dan Penelitian DPD KAMI SULBAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *