Majene  

Seorang Pria Ditemukan Gantung Diri di Majene, Pakar Komunikasi Soroti Pentingnya Komunikasi Dalam Membangun Kesehatan Mental

pesisirmandar.com, Majene — Warga Majene dikejutkan oleh penemuan seorang pria yang meninggal dunia akibat gantung diri di BTN Bumi Lembang Harapan, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, pada Kamis malam (30/1/25).

Dilansir dari Garudapos.id, korban diketahui bernama Ismail (36), yang bekerja sebagai Kepala Subbagian Produksi di PDAM Kabupaten Majene. Ia merupakan warga Lingkungan Baruga, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae.

Korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena persoalan asmara dengan gadis idamannya.

Menanggapi peristiwa ini, Fathiyah, Dosen Komunikasi STAIN Majene, menilai bahwa kasus bunuh diri sering kali terjadi karena individu merasa terisolasi atau tidak memiliki tempat untuk berbagi masalah. Dalam kasus ini, faktor asmara diduga menjadi pemicu utama, yang menunjukkan kegagalan dalam komunikasi interpersonal, baik dalam hubungan asmara korban maupun dengan lingkungan sosialnya.

Baca Juga  Seleksi JPT di Majene Diduga Syarat Kepentingan : Nepotisme, Balas Jasa Politik, hingga Eks Koruptor Lolos

” Komunikasi interpersonal biasanya melibatkan faktor emosi. Tapi ini menjadi unik karena pelakunya berusia 36 tahun, usia yang bagi banyak orang dianggap cukup matang dalam menghadapi masalah. Namun, usia bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana seseorang merespon tekanan psikologis atau emosional,” jelas Fathiyah saat memberikan tanggapannya melalui via WhatsApp pada Jum’at,(31/1/25)..

Baca Juga  12 SPPG di Majene Belum Kantongi SLHS, HMI Minta Masyarakat Waspada

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental yang masih sering diabaikan atau distigmatisasi.

Menurutnya, kurangnya komunikasi terkait pentingnya seeking help (mencari pertolongan) dapat membuat individu yang mengalami tekanan enggan mencari bantuan atau bahkan tidak tahu harus meminta bantuan ke mana.

Mantan Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Majene itu juga mengingatkan media untuk berhati-hati dalam memberitakan kasus bunuh diri agar tidak memicu efek “Werther” atau imitasi bunuh diri.

Baca Juga  TPA Moloku Tak Beroperasi, Program 100 Hari Kerja “Majene Mapaccing” Terancam Gagal

Jika media memberitakan kasus bunuh diri dengan cara yang terlalu eksplisit atau sensasional, tentu bisa menjadi contoh bagi individu lain yang memiliki kerentanan serupa,” tambahnya.

Ia pun menegaskan bahwa edukasi mengenai kesehatan mental harus menjadi perhatian, terutama karena kasus bunuh diri beberapa kali terjadi di Majene.

Misalnya dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, atau pihak lainnya,” tutupnya.

Ikuti Berita Terbaru

Dapatkan berita terbaru dan terpercaya di ponsel Anda dengan mengakses saluran pesisirmandar.com melalui WhatsApp : https://whatsapp.com/channel/0029Vavk6qe8qJ01a0SjC33e

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *